Laman

Sabtu, 23 Mei 2015

Keberadaan Pulau Kecil dan Terluar di Indonesia

Ketika pertama kali mendengar kata pulau kecil apa yang ada di bayangan kita semua ? Mungkin kita akan membayangkan sebuah pulau tidak berpenghuni yang berada di tengah lautan luas atau kita membayangkan sebuah pulau pasir kecil dengan pohon kelapa diatasnya seperti yang sering dilihat di program televisi.

sumber : id.spongebob.wikia.com

Definisi pulau kecil sendiri menurut Undang-Undang  27 Tahun 2007 adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 Km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya.  Di samping kriteria utama tersebut, beberapa karakteristik  pulau-pulau kecil adalah secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland island), memiliki batas fisik yang  jelas  dan  terpencil  dari  habitat  pulau  induk, sehingga  bersifat  insular;  mempunyai sejumlah  besar jenis endemik  dan keanekaragaman  yang tipikal dan bernilai tinggi; tidak mampu mempengaruhi  hidroklimat;  memiliki daerah tangkapan  air (catchment  area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut serta dari segi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat  pulau-pulau  kecil bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya. (Direktori Pulau-Pulau Kecil Indonesia)

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki banyak pulau termasuk pulau-pulau kecil. Keberadaan pulau kecil di Indonesia menjadi penting untuk dibahas ketika pulau tersebut berada di garis terdepan negara Indonesia atau dengan kata lain berbatasan dengan negara-negara tetangga. Setidaknya ada 12 pulau kecil dan terdepan di negara Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga, pulau-pulau kecil tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia mulai dari Sumatera hingga Papua.

sumber : augustcupcup.blogspot.com    

Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh pulau-pulau terluar di Indonesia ? Mari simak penjelasan berikut ini 

  • Kesejahteraan
Pulau kecil dan terluar di Indonesia kondisinya hingga saat ini masih termasuk kondisi yang memprihatinkan. Sulitnya akses menuju pulau serta kondisi geografis, memaksa masyarakat yang mendiami pulau tersebut sebagian besar hidup kurang sejahtera. Sebagai beranda NKRI kesejahteraan penduduk di pulau kecil terluar Indonesia harus lebih diperhatikan terutama pendidikan dan kesehatan yang terjamin.
 
  • Keamanan
Pulau kecil dan terluar di Indonesia rawan terjadinya pelanggaran hukum seperti perompakan dan penangkapan ikan ilegal. Secara hukum, pulau terluar yang sudah sah dimiliki Indonesia memang tidak bisa hilang atau lepas diambil negara lain karena tidak dijaga, namun apabila keamanan di pulau terluar tidak diawasi dengan baik maka bisa menimbulkan kerugian bagi negara kita sendiri  seperti kerugian ekonomi dan stabilitas keamanan.
 
  •  Kedaulatan Negara
Penarikan garis pangkal NKRI sebagai negara kepulauan dilakukan dari pulau terluarnya. Perlu identifikasi dan pemeliharaan pulau terluar agar tidak rusak akibat aktifitas alam maupun manusia. Pulau-Pulau yang berukuran kecil munkin untuk hilang dari permukaan akibat abrasi air laut dan kenaikan muka air laut. Apabila pulau tersebut tidak tampak lagi saat surut terendah air laut maka pulau tersebut tidak bisa digunakan lagi sebagai acuan penarikan garis pangkal sehingga luas wilayah laut Indonesia akan berkurang. Jadi, pengurangan wilayah laut yang sudah dimiliki NKRI bisa terjadi bukan karena diambil negara lain karena negara lain tidak berhak mengakui pulau yang sudah tertera di peta NKRI resmi dan diakui dunia, namun luas wilayah laut munkin berkurang karena pulau tersebut tenggelam dan tidak tercantum lagi di peta terbaru NKRI.  
 
Peran pulau-pulau kecil dan terdepan di NKRI memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Sudah saatnya kita sebagai negara kepulauan terbesar yang sebagian besar rakyatnya hidup di pesisir memperhatikan hal-hal ini. Bukan tidak mungkin, pulau-pulau tersebut dalam beberapa puluh tahun kedepan akan hilang dari permukaan. Sebelum hal itu terjadi, kita harus melakukan beberapa tindakan pencegahan seperti membangun fasilitas publik di pulau kecil dan terluar, membangun fasilitas militer serta melakukan pendataan dan pemeliharaan terhadap pulau kecil dan terluar terutama yang dijadikan sebagai acuan bagi penarikan garis pangkal NKRI. 


 

Minggu, 29 Maret 2015

Mewujudkan Poros Maritim Indonesia



     (TEMPO.CO) Presiden Joko Widodo menegaskan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur di Nay Pyi Taw, Myanmar, hari ini, 13 November 2014.

"Sebagai negara maritim, Indonesia harus menegaskan diri sebagai poros maritim dunia, sebagai kekuatan yang berada di antara dua samudra, Lautan Hindia dan Samudra Pasifik," kata Jokowi di Nay Pyi Taw, Kamis, 13 November 2014.

Penegasan tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat menyatakan pandangan Indonesia dalam KTT Asia Timur. Indonesia secara geografis dan geopolitik memang dirasa tepat mencanangkan diri sebagai poros maritim dunia. Indonesia berada di jalur pelayaran dunia yang menghubungkan benua australia dan benua asia serta menghubungkan samudra hindia dan samudra pasifik. Untuk mewujudkan visi sebagai poros maritim dunia, setidaknya ada tiga pilar yang diagendakan dalam pembangunan


sumber : wikandatu.com
  • Membangun kembali budaya maritim Indonesia

Indonesia dahulu kala merupakan kerajaan besar yang terkenal di bidang maritimnya. Kerjaan Sriwijaya misalnya yang berada di Sumatera Selatan terkenal dengan armada maritimnya yang kuat dan disegani kerajaan lain. Sehingga pada saat itu Sriwijaya bisa mencapai puncak kejayaannya di bidang maritim. Bahkan budaya maritim juga telah ditanamkan semenjak anak-anak dengan lagu bahwa nenek moyangku seorang pelaut. Kebanggaan Indonesia tentang budaya maritimnya perlu dibangun kembali karena sebagai negara kepulauan, Indonesia harus menyadari bahwa identitas, kemakmuran dan masa depan Indonesia ditentukan oleh pengelolaan samudra.

sumber : nelayan-acehkita.com


  • Menjaga dan Mengelola Sumber Daya Laut

Indonesia memiiki sumber daya laut yang beragam, baik itu sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati. Sumber daya alam hayati contohnya adalah ikan dan terumbu karang. Sementara sumber daya alam non hayati contohnya adalah mineral dan minyak bumi. Kekayaan sumber daya alam ini seakan menjadi gula yang diminati oleh semut, banyak negara lain yang masuk wilayah Indonesia tanpa izin dan melakukan eksploitasi sumber daya alam. Agar bisa mewujudkan mimpi sebagai poros maritim dunia Indonesia harus mampu mengelola dan menjaga SDA nya agar nantinya bisa digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia.

sumber : travelpapua.blogspot.com


  •   Memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim
Wacana Indonesia untuk membangun tol laut yang menghubungkan pulau-pulau nya harus terealisasi untuk bisa menjadi poros maritim dunia. Tol laut bukan merupakan jalan tol yang dibangun di atas laut, tetapi tol laut adalah jalur pelayaran langsung yang dibangun secara berkelanjutan dan menggunakan kapal bermuatan besar sehingga komoditas yang diangkut bisa banyak. Untuk itu perlu dibangun sentral industri di seluruh Indonesia terutama yang dilewati jalur tol laut, sehingga kapal menjadi bermuatan terus menerus dan tidak membuat rugi. Misalnya kapal mengirimkan semen ke Papua, apabila dari Papua tidak ada yang diangkut kembali maka kapal akan menjadi rugi dan menaikkan ongkos transportasi. Hal itu salah satu penyebab harga kebutuhan di wilayah-wilayah tersebut menjadi tinggi.

Minggu, 22 Maret 2015

Potensi Sumber Daya Pesisir Non Hayati Indonesia



Indonesia adalah negara yang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah. Mulai dari daratan, pegunungan hingga lautnya. Pesisir Indonesia juga termasuk wilayah yang memiliki sumber daya alam melimpah. Baik itu sumber daya pesisir Hayati dan Non Hayati.  Sumber daya pesisir hayati merupakan sumber daya yang terdiri dari makhluk hidup seperti ikan, terumbu karang dan hutan bakau. Sedangkan sumber daya pesisir non hayati adalah sumber daya yang terdiri dari makhluk yang tidak hidup.
Sumber Daya Pesisir Non Hayati dapat berupa :

  •  Pantai
  •  Pulau-Pulau Kecil
  •  Ombak
  •  Arus
  • Angin
  • Bahan Tambang

Sumber daya hayati dapat diproses oleh manusia untuk memberikan nilai lebih pada sumber daya tersebut. Misalnya sumber daya pantai, apabila tidak dikelola dengan baik dan terbengkalai maka manfaat pantai tidak dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar. Namun apabila dimanfaatkan lebih jauh dan dikelola dengan baik dapat dijadikan potensi pariwisata yang akan mendatangkan turis serta membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat.

Selain itu, pemanfaatan sumber daya hayati juga dapat dilakukan dalam sektor energi. Seperti sumber daya ombak dapat dijadikan sumber energi terbarukan. Ombak dihasilkan oleh angin yang bertiup di permukaan laut. Sesungguhnya ombak merupakan sumber energi yang cukup besar namun untuk memanfaatkan energinya cenderung sulit sehingga jumlah Pembangkit Listrik Tenaga Ombak yang ada di dunia masih sangat sedikit. Beberapa perusahaan yang mengembangkan PLTO versi komersial di dunia antara lain Wavegen dari Inggris dengan kapasitas 500 kW serta Energetech dari Australia dengan kapasitas 2 MW.

Selain ombak arus laut juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Prinsip kerjanya hampir sama dengan kincir angin di darat yang sudah dimanfaatkan oleh negara Belanda. Pergerakan arus laut akan memutar kipas yang sudah ditanam di dasar laut, kipas yang berputar akan memutar turbin sehingga dapat menghasilkan energi listrik. Energi listrik yang dihasilkan oleh arus laut bahkan lebih besar dibandingkan energi yang dihasilkan oleh angin. Namun kekurangan dari energi arus laut ini adalah output energinya yang tidak stabil tergantung interaksi bumi, bulan dan matahari. Pada saat pasang purnama arus laut akan deras sementara pada pasang perbani arus laut akan berkurang hingga setengahnya.

sumber : beritaenak.file.wordpress


Selain itu pesisir juga menyimpan potensi bahan tambang, contohnya adalah penambangan pasir besi di Kulonprogo. Pasir besi sendiri digunakan sebagai bahan baku industri baja dan industri pembuatan semen. Sehingga penambangan pasir besi banyak dijumpai di Indonesia terutama selatan pulau Jawa dan Pulau NTT.

sumber : vedcmalang.com


Pemanfaatan sumber daya non hayati daerah pesisir memang beragam sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Namun jangan sampai pemanfaatan sumber daya tersebut berlangsung tidak seimbang dengan kelestarian lingkungan. Perlu dilakukan pemanfaatan yang seimbang sehingga diharapkan manfaat dari sumber daya tersebut dapat dirasakan dan juga kelestarian lingkungan di sekitarnya tidak terganggu.